Pages

Jumat, 12 Oktober 2012

makalah hakikat manusia dan pengembangannya


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Manusia memiliki kedudukan yang paling tinggi diantara ciptaan Tuhan lainnya. Dengan kekuatan dan keterbatasannya, manusia dapat berbuat apa saja atas dirinya sendiri maupun lingkungannya. Potensi manusia seperti itu secara mendasar telah dimiliki manusia sejak dari awal penciptaannya. Dalam kondisi keberadaan manusia yang dilandasi oleh tujuan penciptaannya, manusia berkembang dan memperkembangkan diri mengukir budaya yang semakin tinggi dan modern, serta mengejar kebahagiaan yang dicitakannya.
Manusia memiliki sifat hakikat yang merupakan karakteristik manusia yang membedakan dengan mahluk lainnya. Sifat hakikat inilah merupakan landasan dan arah dalam merancang dan melaksanakan komunikasi transaksional di dalam interaksi edukatif. Oleh karena itu sasaran pendidikan adalah manusia dimana pendidikan bertujuan menumbuh kembangkan potensi kemanusiannya. Agar pendidikan dapat dilakukan dengan tepat dan benar, pendidikan harus memiliki gambaran yang jelas siapa manusia sebenarnya.
Manusia adalah mahluk Tuhan yang paling sempurna yang memiliki ciri khas yang secara prinsipiil bereda dari hewan. Ciri khas manusia yang membedakan dengan hewan ialah hakikat manusia. Disebut hakikat manusia karena secara hakiki sifat tersebut hanya dimiliki manusia dan tidak dimiliki hewan. Dengan pemahaman yang jelas tentang hakikat manusia maka seorang pendidik diharapan dapat membuat peta karakteristik manusia, sebagai acuan baginya dalam bersikap, menyusun strategi, metode, dan teknik.

1.2 Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Apa sajakah kebutuhan dimensi manusia?
2. Apa sajakah macam dimensi manusia itu?
3. Bagaimana pengembangan dimensi manusia?

1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui :
1. Untuk mengenal lebih dalam tentang kebutuhan dimensi manusia
2. Untuk memahami dimensi-dimensi manusia
3. Untuk memahami pengembangan dimensi manusia

1.4 Sistematika Penulisan
 Bab I Pendahuluan
Terdiri dari: Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penulisan, dan Sistematika Penulisan.
Bab II Pembahasan
Terdiri dari: Kebutuhan Dimensi Manusia, Dimensi-dimensi Manusia, dan Pengembangan Dimensi Manusia.
Bab III Penutup
Terdiri dari: Kesimpulan.














BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kebutuhan Dimensi Manusia
Ketika Anda menyadari diri Anda secara total, maka Anda mengetahui bahwa diri Anda terdiri dari aspek jasmani dan rohani. Kesadaran diri Anda dapat dirasakan dan gejalanya dapat dimanifestasikan dalam bentuk sikap dan perbuatan fisik walaupun kesadaran itu bersifat psikis. Hal demikian menunjukkan bahwa Anda masih eksis dan masih hidup. Kebutuhan hidup manusia dapat bersifat fisik dan psikis.
1. Kebutuhan Hidup Bersifat Fisik
a. Kebutuhan primer
Untuk mempertahankan kehidupan Anda diperlukan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup primer. Kebutuhan primer adalah kebutuhan hidup yang tidak boleh tidak, harus ada dan tersedia. Bilamana kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka keberlangsungan kehidupan akan terganggu. Kebutuhan primer yang berupa nutrisi dari makanan dan minuman, oksigen dan asupan lainnya harus selalu tersedia. Tubuh yang mendapatkan asupan yang cukup dan proporsional akan meningkatkan kesehatan.
b. Kebutuhan sekunder
Semakin sehat seseorang, maka semakin meningkat vitalitasnya. Implikasinya adalah turut meningkatkan kebutuhan yang lain yang bersifat sekunder, seperti kebutuhan seks misalnya. Pemenuhan terhadap kebutuhan ini membawa konsekuensi pengembangbiakan jumlah spesies manusia, bilamana pemenuhan kebutuhan seks ini dapat dilakukan secara wajar.
Secara spesifik ada kebutuhan khusus yang berbeda antara laki-laki dan perempuan terkait dengan perbedaan biologik yang bersifat kodrati yaitu perbedaan organ-organ reproduksi yang harus menjadi perhatian utama. Misalnya laki-laki membuahi dan perempuan mengalami haid, hamil, melahirkan anak dan menyusui. Tentu saja laki-laki dan perempuan memiliki kebutuhan yang berbeda yang disebut dengan kebutuhan gender praktis.
2. Kebutuhan Hidup Bersifat Psikis
Aspek psikis memerlukan perhatian, pendidikan dan pembinaan sebagaimana mestinya sesuai dengan sifat dan karakteristiknya. Seseorang yang melupakan pendidikan dan pembinaannya, maka perkembangan dan pertumbuhan kepribadiannya dapat dipastikan menyalahi hakikat dan kodrat hidupnya. Aspek ini berasal dari alam spiritual, bahkan cenderung kembali ke asalnya bila ia bersih dan suci. Penyuciannya dapat berupa konsentrasi dalam dzikir, shalat dan ibadah lainnya.
Secara psikis seseorang memenuhi pembinaan guna pengembangan aspek psikisnya. Seperti pengembangan berpikir, mengingat, berfantasi, menanggapi, mengamati, memperhatikan dan lain sebagainya. Kebutuhan itu seharusnya dapat dipenuhi sedemikian rupa agar ia dapat menikmati hidup dan dalam rangka menciptakan kondisi manusia yang sehat jasmani dan rohani. Kebutuhan psikis dapat disebutkan sebagai berikut.
a. Rasa Aman
Seseorang, baik laki-laki maupun perempuan, memerlukan, atau yang memiliki perbedaan sosial, sama-sama memerlukan rasa aman dari berbagai ancaman yang bersifat menekan. Seseorang yang merasa tidak aman dari ancaman sesuatu menyebabkan ia gelisah, susah bahkan sampai putus asa. Perasaan aman bisa timbul karena orang yang mempunyai pertahanan diri yang tangguh dan dapat mengatasi segala rintangan yang bersifat menekan dirinya. Disamping itu, adanya perlindungan dari pihak lain yang bertanggungjawab atau dari pihak yang mempunyai otoritas untuk itu, seperti negara dengan segenap aparat keamanannya, atau orang tua bagi anak kecil dapat menghidarkan seseorang dari kecemasan dan rasa tidak aman.
b. Penghargaan
Seseorang dengan ragam perbedan sosial maupun jenis kelamin sama-sama memerlukan penghargaan dari pihak lain, terutama terhadap prestasi-prestasi yang pernah dicapainya. Apresiasi dari orang lain menimbulkan dan meningkatkan rasa percaya diri pada seseorang untuk berbuat lagi, baik perbuatan yang serupa atau perbuatan lain, karena ia mendapatkan kebebasan berkreasi dan optimisme yang tinggi. Orang yang tidak pernah mendapat penghargaan dari pihak lain bisa jadi menekan dirinya, pesimis dan bahkan putus asa. Namun demikian, orang yang mendapatkan apresiasi yang terlalu tinggi dari pihak lain boleh jadi ia bisa congkak atau sombong, karena terlalu percaya diri.
c. Aktualisasi Diri
Seseorang dengan ragam perbedaan sosial maupun jenis kelamin sama-sama mempunyai kemauan, keinginan, dan cita-cita. Semua orang berharap agar kemauan, keinginan dan cita-citanya dapat dicapai. Hal demikian adalah wajar pada setiap orang apabila keinginanannya dapat dicapai secara baik akan menimbulkan rasa kepuasan dan percaya diri. Untuk mencapai keinginannnya itu seseorang selalu melakukan kegiatan yang menunjang pencapai keinginan itu. Orang yang dapat melakukan demikian adalah orang dapat mengaktualisasikan dirinya secara penuh sehingga kebutuhannya dapat dipenuhi.
d. Kebutuhan Terhadap Agama
Ketika seseorang melihat penyimpangan dari pola-pola perencanaan yang ia programkan, akan menyadarkan diri atas kekuasaan yang berada di luar dirinya. Kesadaran semacam ini yang akan menuntun seseorang untuk mempercayai dzat yang maha kuasa. Hal demikian yang menjadi dasar keimanan seseorang untuk memeluk atau mempercayai suatu agama. Pengalaman agama yang dicapai dalam shalat dan do’a misalnya, telah membimbing seseorang untuk merasakan ketentraman batin bahwa dirinya berada dalam naungan kekuasaan-Nya. Dengan demikian, semua manusia dengan berbagai strata sosial dan perbedaan sosial maupun perbedaan jenis kelamin sama-sama membutuhkan kehadiran agama untuk membimbing kehidupan mereka. Allah pun tidak memandang manusia dari aspek perbedaan tersebut, tetapi memandang dari perbedaan ketakwaannya.




2.2 Dimensi-dimensi Manusia
Seseorang (individu manusia) yang sejak kelahirannya (dari penciptaannya) dibekali dengan hakikat manusia untuk pengembangan diri dan kehidupan selanjutnya, ia dilengkapi dengan dimensi-dimensi kemanusiaan yang melekat pada diri individu itu. Dimensi-dimensi itu adalah :
1. Dimensi keindividualan
2. Dimensi kesosialan
3. Dimensi kesusilaan
4. Dimensi keberagamaan

1. Dimensi Keindividualan
Manusia sebagai makhluk keindividualan dimaksudkan sebagai orang yang utuh, yang terdiri dari kesatuan fisik dan psikis. Kandungan dimensi keindividualan adalah potensi dan perbedaan. Di sini dimaksudkan bahwa setiap individu pada dasarnya memiliki potensi, baik potensi fisik maupun mental-psikologis, seperti kemampuan intelegensi, bakat dan kemampuan pribadi lainnya. Potensi ini dapat berbeda-beda antar individu. Ada individu yang berpotensi sangat tinggi, tinggi, sedang, kurang dan kurang sekali.
Keberadaan manusia sebagai individual bersifat unik artinya berbeda antara satu dengan yang lainnya. Setiap manusia sama mempunyai mata, telinga, kaki dan anggota tubuh lainnya, namun tidak ada yang sama persis bentuknya, karena setiap orang kelak  akan diminta pertangungjawaban atas sikap perilakunya. Kesadaran manusia akan dirinya sendiri merupakan perwujudan individualitas manusia, ini mencakup pengertian yang sangat luas, antaranya  kesadaran akan diri antara realitas, self respect, self narcisme, egoisme dll. Manusia sebagai individu memiliki hak sebagai kodrat alami atau anugerah Tuhan kepadanya. Hak asasi sebagai pribadi terutama hak hidup, hak kemerdekaan, dan hak memiliki. Konsekuensi dari adanya hak, maka manusia menyadari kewajiban-kewajiban dan tangung jawab moralnya.


2.   Dimensi Kesosialan
Manusia disamping sebagai mahluk individual, dia juga mahluk sosial. Perwujudan manusia sebagai makhluk sosial tampak dalam kenyataan bahwa tidak ada yang mampu hidup sebagai manusia tanpa bantuan orang lain. Manusia hidup dalam suasana interdependensi, dalam antar hubungan dan antaraksi.
Adanya dimensi kesosialan pada diri manusia tampak lebih jelas pada dorongan untuk bergaul. Dengan adanya dorongan untuk bergaul, setiap orang ingin bertemu dengan sesamanya. Kandungan dimensi kesosialan adalah komunikasi dan kebersamaan. Dengan bahasa (baik bahasa verbal maupun non-verbal, lisan maupun tulisan) individu menjalin komunikasi atau hubungan dengan individu lain. Di samping itu individu juga menggalang kebersamaan dengan individu lain dalam berbagai bentuk, seperti persahabatan, keluarga, kumpulan dan organisasi (non formal dan formal).
Sifat sosialitas menjadi dasar dan tujuan dari kehidupan manusia yang sewajarnya atau menjadi dasar dan tujuan setiap anak dan kelompoknya. Setiap anak pasti terlibat dalam kehidupan sosial pada setiap waktu. Sebagai makhluk sosial, mereka saling membutuhkan, saling membantu, dan saling melengkapi. Manusia akan selalu berinteraksi dengan manusia lain untuk mencapai tujuan hidupnya, dan interaksi tersebut merupakan wadah untuk pertumbuhan dan perkembangan kepribadiannya. Yang dimaksud dengan interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia dimana tingkah laku individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki tingkah laku yang lain.
3.   Dimensi Kesusilaan
Manusia adalah mahluk susila. Dritarkara mengatakan manusia susila, yaitu manusia yang memiliki nilai-nilai, menghayati, dan mewujudkan dalam perbuatan.
Kandungan dimensi kesusilaan adalah nilai dan moral. Dalam dimensi ini digarisbawahi kemampuan dasar setiap individu untuk memberi penghargaan terhadap sesuatu, dalam rentang penilaian tertentu. Sesuatu dapat dinilai sangat tinggi, sedang, ataupun rendah. Penilaian yang dibuat oleh sekelompok individu tentang sesuatu yang sangat penting untuk kehidupan bersama sering kali ditetapkan sebagai standar baku. Standar baku inilah yang selanjutnya dijadikan patokan untuk menetapkan boleh tidaknya sesuatu hal dilakukan oleh individu (terutama individu yang berada di dalam kelompok yang dimaksud). Inilah yang disebut moral. Individu dalam kelompok yang bersangkutan harus mengikuti ketentuan moral tersebut. Ketentuan moral itu biasanya diikuti oleh sanksi atau bahkan hukuman bagi pelanggarnya. Sumber moral adalah agama, adat, hukum ilmu, dan kebiasaan.
Masalah kesusilaan maka akan selalu berhubungan erat dengan nilai-nilai. Nilai-nilai adalah sesuatu yang dijunjung tinggi oleh manusia, mengandung makna kebaikan, keluhuran kemuliaan dan dijadikan pedoman hidup. Pada hakikatnya manusia memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan nilai-nilai susila dan melaksanakannya. Sehingga dengan demikian dapat dikatakan manusia, bila memiliki nilai-nilai, menghayati dan melaksanakan nilai-nilai tersebut.
4.  Dimensi Keberagamaan
Manusia adalah mahluk religius. Sejak zaman dahulu nenek moyang manusia meyakini akan adanya kekuatan supranatural yang menguasai hidup alam semesta ini. Untuk mendekatkan diri dan berkomunikasi dengan kekuatan tersebut ditempuh dengan ritual agama.
Beragama merupakan kebutuhan manusia, karena manusia adalah mahluk yang lemah memerlukan tempat bertopang demi keselamatan hidupnya. Agama sebagai sandaran manusia. Penanaman sikap dan kebiasaan beragama dimulai sedini mungkin, yang melaksanakan dikeluarga dan dilanjutkan melalui pemberian pendidikan agama di sekolah.
Kandungan dimensi keberagaman adalah iman dan takwa. Dalam dimensi ini terkandung pemahaman bahwa setiap individu pada dasarnya memiliki kecenderungan dan kemampuan untuk mempercayai adanya Sang Maha Pencipta dan Maha Kuasa serta mematuhi segenap aturan dan perintah-Nya. Keimanan dan ketakwaan ini dibahas dalam agama yang dianut oleh individu. Kitab suci agama serta tafsir yang mengiringinya memuat kaidah-kaidah keimanan dan ketakwaan tersebut.

2.3 Pengembangan Dimensi-dimensi Manusia
Hakikat dan eksistensi manusia, masing-masing dimensinya dapat dikembangkan sehingga dapat membentuk kepribadian manusia.
1. Pengembangan Manusia sebagai Mahluk Individu
Pendidikan harus mengembangkan anak didik mampu menolong dirinya sendiri. Untuk dapat menolong dirinya sendiri, anak didik perlu mendapat berbagai pengalaman di dalam pengembangan konsep, prinsip, generasi, intelek, inisiatif, kreativitas, kehendak, emosi/perasaan, tanggungjawab, keterampilan ,dll. Dengan kata lain, anak didik harus mengalami perkembangan dalam kawasan kognitif, afektif dan psikomotor.
Sebagai mahluk individu, manusia memerlukan pola tingkah laku yang bukan merupakan tindakan instingtif, dan hal-hal ini hanya bisa diperoleh melalui pendidikan dan proses belajar. Di atas telah dikatakan bahwa perwujudan manusia sebagai mahluk individu (pribadi) ini memerlukan berbagai macam pengalaman. Tidaklah dapat mencapai tujuan yang diinginkan, apabila pendidikan terutama hanya memberikan aspek kognitif (pengetahuan) saja sebagai yang sering dikenal dan diberikan oleh para pendidik pada umumnya selama ini. Pendidikan seperti ini disebut bersifat intelektualistik, karena hanya berhubungan dengan segi intelek saja. Pengembangan intelek memang diperlukan, namun tidak boleh melupakan pengembangan aspek-aspek lainnya sebagai yang telah disebutkan di atas.
2. Pengembangan Manusia sebagai Mahluk Sosial
Manusia adalah mahluk yang selalu berinteraksi dengan sesamanya. Manusia tidak dapat mencapai apa yang diinginkan secara seorang diri saja. Kehadiran manusia lain dihadapannya, bukan saja penting untuk mencapai tujuan hidupnya, tetapi juga merupakan sarana untuk pengembangan kepribadiannya. Kehidupan sosial antara manusia yang satu dengan yang lainnya dimungkinkan tidak saja oleh kebutuhan pribadi seperti telah disebutkan di atas, tetapi juga karena adanya bahasa sebagai alat atau medium komunikasi. Melalui pendidikan dapat dikembangkan suatu keadaan yang seimbang antara pengembangan aspek individual dan aspek sosial ini. Hal ini penting untuk pendidikan di Indonesia yang berfilasafah pancasila, yang menghendaki adanya perkembangan yang seimbang antara aspek individual dan aspek sosial tersebut.
3. Pengembangan Manusia sebagai Mahluk Susila
Setiap masyarakat dan bangsa mempunyai norma-norma, dan nilai-nilainya. Melalui pendidikan kita harus mampu menciptakan manusia susila dan harus mengusahakan anak-anak didik kita menjadi manusia pendukung norma, kaidah dan nilai-nilai susila dan sosial yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya. Norma, nilai dan kaidah tersebut harus menjadi milik dan selalu dipersonifikasikan dalam setiap sepak terjang, dan tingkah laku tiap pribadi manusia.
Pentingnya mengetahui dan menerapkan secara nyata norma, nilai, dan kaidah-kaidah masyarakat dalam kehidupannya mempunyai dua alasan pokok,yaitu :
1. Untuk kepentingan dirinya sendiri sebagai individu. Apabila individu tidak dapat menyesuaikan diri dan tingkah lakunya tidak sesuai dengan norma, nilai dan kaidah sosial yang terdapat dalam masyarakat maka dimanapun ia hidup tidak dapat diterima oleh masyarakat.
2. Untuk kepentingan stabilitas kehidupan masyarakat itu sendiri. Masyarakat telah menghasilkan dalam perkembangannya aturan-aturan main yang kita sebut norma, nilai, dan kaidah-kaidah sosial yang harus diikuti oleh anggotanya. Norma, nilai dan kaidah-kaidah tersebut merupakan hasil persetujuan bersama untuk dilaksanakan dalam kehidupan bersama, demi untuk mencapai tujuan mereka bersama. Dengan demikian, kelangsungan kehidupan masyarakat tersebut sangat tergantung pada dapat tidaknya dipertahankan norma, nilai dan kaidah masyarakat yang bersangkutan.
4. Pengembangan Manusia sebagai Mahluk Religius
Sebagai anggota masyarakat dan bangsa yang memiliki filsafat Pancasila kita dituntut untuk menghayati dan mengamalkan ajaran pancasila sebaik-baiknya. Sebagai anggota masyarakat yang dituntut untuk menghayati dan mengamalkan ajaran Pancasila, maka kepada masing-masing warga negara dengan demikian juga dituntut untuk dapat melaksanakan hubungan dengan Tuhan sebaik-baiknya menurut keyakinan yang dianutnya masing-masing, serta untuk melaksanakan hubungan sebaik-baiknya dengan sesama manusia dan dengan lingkungan.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Manusia merupakan makhluk yang sempurna. Kepribadian manusia memiliki sifat yang unik, potensial dan dinamis. Pemenuhan kebutuhan dan pengembangan diri manusia itu tampaknya memang dapat dilaksanakan dari, untuk dan oleh manusia itu sendiri. Pernyataan bahwa “manusia dengan segenap perkembangan budayanya adalah dari manusia, untuk manusia, dan oleh manusia”,  mengimplikasikan bahwa manusia memang hebat, bisa berbuat dan membuat apa saja, untuk kehidupan kemanusiaannya, sesuai dengan kebutuhan dan kemauaannya.
Manusia juga memiliki akal untuk menghadapi kehidupannya di dunia ini. Akal juga memerlukan pendidikan sebagai obyek yang akan dipikirkan. Fungsi akal tercapai apabila akal itu sendiri dapat menfungsikan, dan obyeknya itu sendiri adalah ilmu pengetahuan. Maka dari itu, manusia pada hakikatnya adalah makhluk peadagogis, makhluk sosial, makhluk individual, dan makhluk beragama.











DAFTAR PUSTAKA

Prayitno. 2009. Dasar Teori dan Praksis. Jakarta : Grasindo.
http://nie07independent.wordpress.com/hakikat-manusia/
http://qym7882.blogspot.com/2009/04/hakikat-manusia-dan-pengembangannya.html

0 komentar:

Poskan Komentar